Wahhabisme : Sebuah Tinjauan Kritis — Hamid Algar

Wahhabisme : Sebuah Tinjauan Kritis — Hamid Algar

Wahhabisme : Sebuah Tinjauan Kritis -- Hamid Algar

Ebook Gratis

Download Ebook

Inilah mungkin buku paling ringkas tapi juga paling lengkap mengenai Wahhabisme, aliran pemikiran dan gerakan Islam yang pertama kali muncul di jazirah Arab pada abad kedelapanbelas. Seperti ditunjukkan namanya, Wahhabisme diperkenalkan oleh seorang pemimpin agama bernama Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Belakangan ini, khususnya sejak terjadinya pemboman terhadap Menara Kembar di kota New York, Amerika Serikat, pada 11 September 2001, Wahhabisme makin sering dibicarakan, karena banyak analis mengaitkan pengaruh ajaran itu dengan pertumbuhan dan praktik Islam radikal, bahkan Islam teroris, di dunia. Dua tahun lalu, misalnya, Khaled Abou El Fadl, seorang sarjana Muslim kenamaan, menulis dengan nada geram mengenai pengaruh itu. Katanya antara lain, “Setiap kelompok [radikal] Islam yang hingga tingkat yang berbeda dikecam oleh dunia, seperti Taliban dan al-Qa’ida, amat dipengaruhi oleh pemikiran Wahhabi.”

Buku ini bukan saja terdiri dari deskripsi mengenai Wahhabisme, tetapi juga penilaian kritis penulisnya, Professor Hamid Algar, tentangnya. Hal ini dapat ditemukan pada hampir semua bagian buku ini. Pendahuluan buku ini, bab I, mendiskusikan secara umum tempat Wahhabisme di dunia Islam dan
mengapa “Wahhabisme” adalah satu-satunya nama yang tepat untuk penyebutannya. Pada bab II, Algar menyajikan riwayat hidup Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab yang dikenal berwatak keras, puritan dan intoleran, lengkap dengan kesaksian bapak dan saudaranya mengenainya. Bagian ini juga secara kritis
membicarakan karya-karya pendiri Wahhabisme itu, yang oleh Algar dinilai kurang memiliki bobot intelektual, dan aliansi yang terjadi di antara tokoh itu dengan keluarga bin Sa‘ud, yang karenanya upaya “pemurnian” a la Wahhabisme dimungkinkan. Bab III membahas doktrin Wahhabisme, yang berpusat pada apa yang disebut sebagai tawhîd al-‘ibâdah, yang antara lain menyebabkan penolakan kaum Wahhabi atas sufisme dan filsafat—juga atas apa saja yang mereka klaim sebagai bid’ah. Lagi-lagi, Algar mengeritik sejumlah doktrin itu, yang pada kadar tertentu dianggapnya sudah membabi-buta. Kemudian,  pada bab IV, Algar mendeskripsikan bagaimana ekspansi paham Wahhabisme dilakukan ke seluruh dunia, khususnya setelah kerajaan Arab Saudi memperoleh banyak uang dari hasil penjualan minyak. Pada bagian ini, Algar juga mendiskusikan aliansi tak-suci (unholy alliance) yang berlangsung antara sebuah kerajaan Islam, yang didukung Wahhabisme, dengan pemerintahan-pemerintahan Barat, khususnya Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Akhirnya, setelah kesimpulan, buku ini dilengkapi dengan sejumlah lampiran yang memperkuat penilaian Algar.

Penting disadari, bersikap kritis tidaklah sama dengan bersikap tidak objektif. Sikap yang terakhir, tidak objektif, adalah sikap yang dicirikan oleh keinginan untuk menutup-nutupi fakta, atau keinginan untuk tidak mengungkap fakta apa adanya, termasuk kesengajaan untuk tidak mengungkap fakta selengkap-lengkapnya. Bersikap kritis tidak harus bertentangan dengan bersikap objektif. Bahkan, sikap kritis yang sesungguhnya hanya dapat dilakukan jika kita bersedia berlaku objektif, sebab hanya di atas objektivitaslah kritisisme yang tangguh bisa diberikan.

Karya ini adalah sebuah karya yang objektif sekaligus kritis mengenai Wahhabisme. Dalam menunjang paparan dan kritiknya, Professor Algar memanfaatkan sumber-sumber primer dari beragam bahasa, termasuk dokumen-dokumen resmi yang diterbitkan pemerintah Arab Saudi berisi sejarah resmi Wahhabisme dan Kerajaan Arab Saudi. Tinjauan kritis Algar boleh jadi dimotivasi oleh kekhawatirannya sebagai seorang manusia, sebagai pengikut sebuah tarekat, tetapi nilai kritisismenya itu tidak serta-merta luntur hanya karena motivasinya itu, sebab pada kenyataannya ia tetap bisa bersikap objektif dalam melihat fakta-fakta mengenai Wahhabisme. Hasil kritisisme seorang sarjana tidak bisa dinilai hanya dari motivasinya, sekalipun hal itu tetap perlu, melainkan dari bagaimana ia sampai pada kritisismenya itu dan oleh argumentasi apa ia menopangnya.

Semoga buku ini mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya, khususnya dalam membangun dan mengembangkan demokrasi dan nalar kritis di negeri kita tercinta ini. Saya percaya, masa depan Islam akan ditentukan oleh sejauh mana kaum Muslim bisa mengembangkan paham keislaman yang terbuka, inklusif, dan toleran.

Btw, jika rekan-rekan juga tertarik dengan dunia website dan internet marketing, rekan-rekan dapat mengisi form untuk memperoleh tutorial gratis dengan mengklik link http://superinternetmarketer.com/register atau mengklik gambar di bawah ini.

Salam Sukses Bahagia,

Admin Gudang Ebook

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*