Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia — Yoseph Tugio Taher

Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia — Yoseph Tugio Taher

Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia -- Yoseph Tugio Taher

Ebook Gratis

Download Ebook

“ALMARHUM Presiden RI Bung Karno pernah mengatakan, ‘Dalam menyikapi sejarah bangsa, ambillah abunya! … sesuatu yang telah hangus terbakar dan yang tersisa cuma abu, namun belum segera padam seluruhnya, masih ada segumpal api dalam abu dari sisa yang telah terbakar dan hangus.’ Dan itulah abu sejarah yang dimaksudkan oleh Presiden Soekarno itu, yang masih meninggalkan sisa api yang bisa dihidupkan kembali,” begitu tulis Asahan Aidit, M.A., Ph.D., filolog, dalam Wahana News, 7 Januari 2007, yang bertemakan “Sikap terhadap Sejarah”. Tulisannya itu dilanjutkan dengan kalimat: “Tapi, bagaimanakah sikap bangsa ini terhadap sejarah bangsanya yang sudah menjadi abu, dan lantas akan dikemanakan abu yang dianjurkan oleh Soekarno agar diambil. Untuk apa? Untuk dibuang begitu saja? Lantas untuk apa diambil? Atau untuk disiram cepat‐cepat agar sisa api di dalam sekam itu padam secara mutlak hingga cuma debu seratus persen dan sejarah pun sirna tanpa bekas, terlupakan, dan sejarah cumalah sekadar angin lalu tanpa meninggalkan bekas.”

Sesungguhnya, inilah sekarang yang dilakukan oleh sebagian orang yang menjadi “pelaku sejarah yang kejam penuh dosa, … sebuah rezim yang berhutang nyawa jutaan manusia, … musuh rakyat yang dari generasi ke generasi terus memeras, menindas, dan memperlakukan rakyat sebagai budak abdi mereka, bersama gerakan anti komunis yang semakin marak menyala, semakin agresif dan semakin nekat, terang‐terangan secara brutal melecehkan demokrasi, mendemonstrasikan kefanatikan….” Demikian tulis Asahan Aidit. Dengan berbagai daya dan cara, kaum rezim orde baru dan sisa‐sisanya, ataupun yang secara berselubung menjadi penerusnya dan masih berkuasa, mencoba menyiram abu sejarah yang masih tersisa, agar supaya generasi mendatang tidak pernah tahu, tidak pernah mendengar bahkan tidak pernah mengenal apalagi memikirkan atau menyelidiki tentang sejarah hitam bangsa Indonesia. Tentang G30S, tentang pembunuhan brutal atas jutaan bangsa Indonesia yang tak berdosa, tentang kekejaman kaum militer terhadap bangsanya sendiri, tentang Soeharto, militer yang dengan licik mengingkari Pancasila, mengingkari Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, merebut bahkan membunuh dengan kejam atasannya, presiden, pemimpin rakyat, dan bapak bangsa Indonesia: Soekarno!

Orde baru mempunyai “versi sejarah” yang sejak 1965 dipaksakan, dijejalkan ke dalam benak para generasi muda, dan yang sampai hari ini masih diteruskan oleh sisa‐sisa dan penerus orde baru yang masih duduk di kursi empuk pemerintahan. Mereka mencoba untuk mengelabui dan membodohi rakyat dengan berbagai dalih dan cara, seperti “membicarakan masalah G30S sebagai tidak produktif.”

Ini berarti nasib lebih dari 3 juta manusia yang dibunuh dengan kejam oleh rezim orba/Soeharto, tidak perlu dibicarakan. Membicarakannya, dianggap sebagai hal yang tidak produktif, tidak ada harga. Begitulah watak dan moral rezim orba dan golongan yang secara sembunyi menjadi penerus orba. Lebih parah lagi, pemerintah mengizinkan atau memaksakan, hanya satu sejarah G30S versi orde baru yang kebenarannya sangat diragukan, untuk para pelajar dan generasi muda, seperti apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan menutup mata akan kebenaran, demokrasi dan hak‐hak kemanusiaan, menutup rapat‐rapat pintu penyelidikan atas segala kebohongan dan penipuan sejarah yang dilakukan orde baru, dengan melarang dan menarik dari peredaran, semua buku yang tidak mencantumkan PKI di belakang kata G30S. Dan apa yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini, tidakkah itu berarti menerima, menelan bulat‐bulat, dan melanjutkan “sejarah” yang dikarang orde baru, yang juga bisa diartikan bahwa pemerintah adalah sesungguhnya adalah penerus dari rezim orde baru?

“Sejarah adalah milik pemenang. Realitas tersebut terbukti dalam pengungkapan fakta peristiwa G30S selama ini yang merupakan interpretasi sejarah dari penguasa orde baru.”

Karena ‘sejarah adalah milik pemenang’ yang berkuasa hampir 1/3 abad, dan yang memaksakan versinya, karenanya, apakah bisa menjadi jaminan bahwa sejarah yang mereka tulis itu adalah benar? “The winner takes all,” kata peribahasa, “si pemenang memperoleh segala‐galanya!” Pemenang “menciptakan dan mengarang” sejarah, termasuk—sudah barang tentu—melecehkan, menabur fitnah, dan kebohongan terhadap mereka yang dilumpuhkan, dikalahkan, serta memutarbalikkan segala fakta kebenaran! Generasi muda bangsa Indonesia mempunyai hak penuh untuk mengetahui sejarah bangsanya, sejarah leluhurnya, pahlawan‐pahlawan bangsanya, berhak penuh untuk mengetahui pengkhianat-pengkhianat bangsanya, mengetahui sejarah terang dan sejarah kelam, gelap dan hitam dari bangsa dan pemimpinnya!

Untuk tujuan inilah, penulis mencoba mengorek abu sejarah hitam Indonesia dan menuangkannya ke dalam buku “Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia”ini semenjak proklamasi kemerdekaan, pemberontakan daerah, dan perihal kejadian tahun 1965, pembunuhan massal yang menelan korban jutaan anak‐anak bangsa. Kendatipun usaha ini berkemungkinan kurang bisa melengkapi kebutuhan dan pemenuhan keinginan yang diperlukan, namun penulis mencoba—dengan daya dan usaha—mengumpulkan ‘abu‐abu’ yang berserakan di mana‐mana—dari berbagai sumber, tulisan dari para penulis di suratkabar dan situs internet, yang sengaja atau tidak, disembunyikan dan berada di luar pengetahuan umum, dan menjadikannya satu urutan, satu kronologis untuk dibaca, untuk bahan rujukan, agar generasi muda dapat melihat, mempelajari, menjadi jelas dan mempertimbangkan, kemudian mempunyai pengertian dan kesimpulan mengenai sejarah yang digelapkan atau dihilangkan oleh bekas penguasa orde baru dan sisa-sisanya, terutama mengenai kejadian tahun 1965 yang menelan korban jutaan anakanak bangsa yang tak berdosa. Sejarah gelap dan kelam bangsa Indonesia tahun 1965, bukanlah seperti batu yang oleh golongan rezim orba dan pewarisnya bisa begitu saja dicampakkan, dilempar ke laut dan tak bakal timbul lagi. Sejarah adalah milik generasi bangsa, dan mereka harus mengorek, menggali, dan mempelajari dan harus mengetahuinya, karena Peristiwa 1965 adalah merupakan peristiwa besar, peristiwa yang membelokkan arah sejarah, peristiwa yang mengubah langkah dan budaya bangsa Indonesia. Seperti yang pernah diucapkan oleh Prof. Ben Anderson: “Sekarang memang banyak sejarah yang dihapus. Kita juga harus ingat bahwa orba selama ini justru melakukan apa yang suka saya sebut ‘kebijaksanaan pembodohan’ masyarakat Indonesia sendiri. Bukan hanya tentang pembunuhan tahun 65. Tetapi juga tentang bagaimana munculnya kesadaran nasional, sejarah zaman pergerakan yang sebenarnya, tentang zaman Jepang, zaman revolusi, dsb. Karena yang mau dijadikan pahlawan itu cuma ABRI. Padahal ABRI kan belum lahir waktu orang lain sudah berjuang puluhan tahun. Tapi toh sekarang mulai terlihat usaha anak‐anak muda untuk mencari informasi, untuk menggali kembali sejarah bangsanya. Dan memang ini tugas anak muda, kan? Untuk tidak mau dibodohi.”

Demikian kata Prof. Ben Anderson, guru besar sejarah dan politik Universitas Cornell, Amerika Serikat.

Dan maksud buku “Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia” ini adalah sekadar membantu bangsa dan kaum muda Indonesia, untuk mengaji dan menelusuri kembali [terutama] sejarah peristiwa G30S—1965. “Karena peristiwa G30S merupakan peristiwa besar, maka segala usaha dari pihak mana pun untuk mencari kebenaran tentang peristiwa itu sendiri, serta sebab‐sebab dan latar belakangnya—dan juga akibat‐akibat selanjutnya—adalah sangat berguna bagi sejarah bangsa kita.”

“Kalau kita ingin supaya masa depan bangsa ini cerah, harus ada keberanian untuk membongkar yang lama, sehingga kita tahu betul peristiwa ini bagaimana sebetulnya, adanya, dan sebagainya.”

Sudah barang tentu, buku “Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia” ini jauh dari sempurna, karena penulis sekadar meramu dan mengumpulkan “abu‐abu yang berserakan di segala penjuru” terutama mengenai informasi Peristiwa 1965, peristiwa yang tidak bisa dan tidak pernah akan dilupakan oleh segenap bangsa Indonesia. Semoga hal ini akan berguna dan membantu, namun diharapkan, agar generasi muda terus menggali lebih dalam lagi akan kebenaran‐kebenaran yang dihilangkan, disembunyikan dan ditutupi oleh penguasa orde baru dan penerusnya. Ayo, maju terus, jebol terus dalam mencari dan membukakan fakta kebenaran. Kemudian, semua terserah kepada kaum muda dan generasi bangsa Indonesia yang tercinta!

DAFTAR ISI
Pengantar : Menggulingkan Soeharto Sekali Lagi — Jakob Sumardjo v
Pendahuluan 1
Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia
Indonesia Sesudah Proklamasi 5
Peristiwa 3 Juli 1946 7
Rasionalisasi Hatta 10
Peristiwa Madiun 12
Kesimpulan dari Peristiwa Madiun 13
Gejolak dalam Penolakan Rera dan KMB 13
Serangan Umum 1 Maret 1949 15
Yoga Sugama – Ali Murtopo – Soeharto 24
Kejahatan Kriminal 27
Think Thank CIA 29
Buntut Peristiwa Madiun 31
PRRI/Permesta 31
Keterlibatan Asing 36
Amanah Bung Karno 44
Van der Plas Connection 45
Menemukan Jagonya 45
Situasi Tanah Air 46
Bung Karno Dijadikan Presiden Seumur Hidup 47
Nasakom 48
Situasi di Kalangan Militer 55
Untung – Latief – Soepardjo dan Soeharto 57
Kunjungan Latief kepada Soeharto 58
Gerakan 30 September 60
Aksi G30S 64
Kontra Aksi 66
Kelicikan dan Pembangkangan Soeharto 69
Fitnah dan Rekayasa 74
Autopsi Jenazah Para Jenderal 77
Kondisi Jenazah 81
Pengalaman dalam Melakukan Autopsi 84
Situasi Jakarta 86
Telegram Duta Besar Amerika Serikat 88
Aidit Dibunuh! 92
Pembunuhan di Daerah-Daerah 93
Aceh dan Sumatra Utara 93
Riau 94
Sumatra Barat 95
Jawa Barat 97
Jawa Tengah 97
Jawa Timur 98
Bali 99
Penggolongan Tahanan Politik 100
Jumlah Korban 102
Kolonel Sarwi Edhi Wibowo 103
Ditunggingi 103
Pengakuan Sarwo Edhi 104
Jaket Kuning dan Nasi Bungkus 105
Letnan Kolonel Untung 107
Kolonel A. Latief 110
Hubungan Latief dengan Soeharto 111
Kolonel Latief : “Jenderal Soeharto Terlibat G30S!” 111
Trio Sel Komunis ? 113
Kolonel Latief, Gembong atau Korban ? 114
Pernyataan dan Tuntutan Kol. A. Latief 115
Brigjen Supardjo, G30S Dirancang untuk Gagal 118
Lettu. Doel Arief 120
Sersan Mayor Boengkoes 122
Gembong G30S, Syam Kamaruzaman 123
Syam – Sang Agen Ganda ? 125
Peranan Syam Kamaruzaman 126
Kegiatan Setelah Gagal 128
Ada ‘Tiga Orang Syam’ ? 129
Soeharto : Senyum yang Buram dari Manusia Langka 131
Soekarno Diusir 145
Saat Terakhir Bung Karno 152
Tidak Produktif ? 166
“G30S/PKI” atau “G30S/1965” ? 170
Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto 171
Gerakan 30 September dan Amerika Serikat 175
Versi Mutakhir G30S 184
Lampiran : Daftar Korban Genosida 1965 – 1968 di Indonesia
A. Tidak Jelas Penahanannya, Diculik, Dihilangkan, dan Dibunuh 193
B. Tahanan yang Dihilangkan, Dibunuh, dan Meninggal 206
C. Pemerkosaan Perempuan di Indonesia Tahun 1966 – 1967 251
D. Penjelasan tentang Pemerkosaan Perempuan di Indonesia Tahun 1966 – 1967 253

Semoga buku “Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia” ini bukan hanya menambah wawasan kita tentang sejarah Indonesia, melainkan juga agar senantiasa kritis terhadap sejarah yang ada dan berkembang karena sejarah memang selalu dikonstruksi oleh penguasa atau pemenang. Dan buku ini benar-benar mengajarkan kita untuk senantiasa bersikap kritis dan komprehensif dalam melihat sejarah. Selamat Membaca Buku “Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia” ini.

Btw, jika rekan-rekan juga tertarik dengan dunia website dan internet marketing, rekan-rekan dapat mengisi form untuk memperoleh tutorial gratis dengan mengklik link http://superinternetmarketer.com/register atau mengklik gambar di bawah ini.

Salam Sukses Bahagia,

Admin Gudang Ebook

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*