Sabda Rindu : Antologi Puisi Achmad Ubaidillah

Sabda Rindu : Antologi Puisi Achmad Ubaidillah

Sabda Rindu : Antologi Puisi Achmad Ubaidillah

Ebook Gratis

Download Ebook

Menurut seorang pemikir Rusia, Pitirim Sorokin (1889-1968), cinta itu ibarat gunung es yang terapung di sebuah lautan: hanya sebagian kecil yang kelihatan, dan itu pun sangat sedikit dipahami. Ketika membaca ‘Sabda Rindu’, terasa seakan-akan bagian dari yang sedikit dipahami ini mulai menjadi jelas; seperti es yang mulai cair menjadi air yang jernih dan transparan. Dan sewaktu diminum, ia dapat melegakan dahaga dan mendatangkan kenikmatan. Air itu merupakan simbol kehidupan. Dan simbol itu membawa kita kepada cinta dan rahmat Tuhan kepada makhluk-Nya. Dengan segelas air, kita berhenti dan merenung, maka kita mulai menemukan jalan cinta.

Jalan cinta inilah yang ingin ditempuh oleh pengarang bait-bait yang terangkum di dalam ‘Sabda Rindu. Mengapa sabda ‘rindu’ dan bukan sabda ‘cinta’ ? Saya kira karena cinta itu harus bermula dengan kerinduan yang teramat sangat untuk mencari penyempurnaannya. Mungkin inilah yang menjadi pencarian pengarang ‘Sabda Rindu’.

Achmad Ubaidillah, atau lebih akrab dikenali sebagai ‘Mas Ubaid’ adalah tokoh aktivis yang rajin membawa gagasan-gagasan cinta dan perdamaian sesama umat manusia, tanpa memandang etnis, agama dan segala identitas primordial lainnya. Menariknya, sosok seperti beliau sangat jarang kita temukan. Secara umum, tidak banyak aktivits yang berpuisi, apalagi jika puisi-puisi itu mengenai tema-tema yang dianggap ‘romantis’.

Memang benar, di tengah-tengah kerusakan alam dan masyarakat, serta kesengsaraan hidup yang membantai ramai jiwa, sangat sukar bagi kita berbicara mengenai ‘cinta’. Mungkin inilah dilema manusia modern. ‘Cinta’ itu sering dilihat sebagai sesuatu yang utopis, awang-awangan dan kalaupun dibicarakan, ia hanya dipahami dalam bentuk yang vulgar dan dikomoditaskan. Namun, kita juga yakin hanya cinta yang bisa menempatkan kita di dalam posisi yang mampu menunjukkan keprihatinan dan tanggung jawab yang altruistik terhadap sesama insan. Atau seperti kata Jalaluddin Rumi (1207-1273), “Cinta itu adalah api yang bertukar menjadi air, kiranya aku ibarat batu yang keras.”

Jika cinta menjadi titik penghujung perjalanan puisi-puisi ‘Sabda Rindu’, maka kerinduan menjadi semangatnya. Rindu adalah aspek dialektis dari cinta itu sendiri. Tidak mungkin hati yang tidak rindu mendambakan cinta. Dan tidak mungkin cinta itu tidak menimbulkan kerinduan.

Selamat Membaca. Selamat Mencinta dan Merindu.

Btw, jika rekan-rekan juga tertarik dengan dunia website dan internet marketing, rekan-rekan dapat mengisi form untuk memperoleh tutorial gratis dengan mengklik link http://superinternetmarketer.com/register atau mengklik gambar di bawah ini.

Salam Sukses Bahagia,

Admin Gudang Ebook

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*